SEJARAH DESA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Desa Tambakrejo merupakan salah satu Desa dan Kelurahan dari 19 Desa/Kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Pemalang dan merupakan 221 Desa/Kelurahan di Kabupaten Pemalang.

Secara geografir Desa Tambakrejo terletak di sebelah barat wilayah Kecamatan Pemalang.

Secara legenda desa Tambakrejo mempunyai cerita yang heroik dan eksotis

Sejarah Desa Tambakrejo yang pasti dan tertulis selama tidak ada , namun berbagai cerita  yang berkembang dari orang tua, leluhur dan tokoh masyarakat ada beberapa tempat dan cerita kejadian yang hampir mirip dan meyakinkan dengan sejarah terjadinya Desa Tambakrejo.

Dahulu kala hiduplah seorang perempuan bernama Nyai Siti Rohjati ( Cinde Asih ) anak Ratu Galuh Pajajaran, tingal disatu tempat (Lo Bongkok), suatu ketika beliau terkena penyakit parang ( cangkrang ) yang sulit disembuhkan, karena hal tersebut beliau menyebar sayembara “ siapa yang dapat menyembuhkan penyakit saya, bila laki-laki seumur saya akan dijadikan suami dan bila lebih muda dianggap anak, bila lebih tua dianggap orang tua”. Bersama itu pula datanglah seorang laki-laki bernama R. Amburu Karang Welang  disuruhlah Nyai Siti Rohjati untuk memejamkan mata, kemudian Raden Amburu karang Welang mengusap bagian tubuh yang sakit dan dibuanglah ke sungai Rambut, seketika itu juga hilang penyakit Nyai Siti Rohjati. Maka sampai sekarang ikan disepanjang aliran sungai Rambut ( Kedung Sambi ) sampai sekarang ikannya gurih.

Tahun demi tahun R Amburu Karang Welang dan Nyai Siti Rohjati turun disuatu tempat ( Candi Cinde Asih ), dari hubungan tersebut menurunkan satu anak laki-laki namun baru satu bulan dari kelahiran anaknya R Amburu Karang Welang meninggalkan Nyai Siti Rohjati tanpa diketahui arah tujuannya, hanya meninggalkan layang dan satu konde ( Cinde ), yang kemudian anaknya diberi nama Tinggal Layang.

Ditempat tersebut ( Blok kandangan ) Nyai Cinde Asih dan Tinggal Layang menetap, karena setiap malam diganggu oleh sekawanan macan atau aur maka mereka pindah kesebelah utara ( Caur Barat ), dan sejak itu tempat tersebut diberi nama Kandang Aur / Cihaur atau Caur,

Pada cerita lain terdapatlah suatu tempat yang sudah ada penghuninya tempat tersebut bermedan menyerupai Tambak yang dikelilingi oleh pohon beringin, selanjutnya ada suatu kejadian seorang saudagar dari negeri Cina bernama Kaladita ( adik kaisar Cina ) beerkelana sambil berdagang sampai ke tanah jawa sampai disuatu tempat ( Blok Sumur Sungsang ) kapalnya terdampar namun ada seorang yang sedang lewat disuruh untuk menolong tidak mau dengan alasan mau merumput. Setelah ditanya dimana tinggalnya menunjuk ketempat tersebut diatas, sejak itu pula tempat tersebut di beri nama Tambak Ringin.  Di sisi lain tempat tersebut tinggal seorang pandai bernama Yuda Negara ( anak dari Tinggal Layang ) dan dijuluki mbah Mancasan karena orangnya pancas / cerdas ( tahu sebelum terjadi ).

Dari hubungan kekerabatan petinggi tersebut diatas, maka disatukanlah pola kepemimpinan dan tatanan kehidupan masyarakat, walaupun sebelumnhya dua daerah tersebut sendiri-sendiri. Bergulirnya waktu untuk memberi nama diambillah nama Tambak Reja  yang berarti Tambak adalah tempat / wadah dan Rejo adalah makmur tentram dan sejahtera. Jadi Tambakrejo dapat diartikan  tentram, makmur dan aman.

Dari beberapa tahun silam dan berkembangnya waktu Tambakrejo menjadi pemerintahan yang dinamakan Desa Tambakreja dan karena jaman serta pejabat yang di dominsi oleh orang timur maka sejak tahun 80-an jadi Tambakrejo.

Kepemimpinan / pemimpin Desa Tambakrejo sejak dulu yang dapat dikethui antara lain :

  1. Wana Turna ( Bekel )                         Tahun ( Tidak diketahui )
  2. Dongkol ( Bekel )                                Tahun ( Tidak diketahui )
  3. Tar / Blawu ( Bekel )                          Tahun ( Tidak diketahui )
  4. Sardini ( Bekel )                                  Tahun ( Tidak diketahui )
  5. Sudana ( Bekel )                                  Tahun 1920 – 1939
  6. Daryana ( Bekel )                                Tahun 1939 – 1942
  7. Sumardi + Waman ( Bekel)              Tahun 1942 – 1944
  8. Waman ( Bekel )                                 Tahun 1944 – 1945
  9. Wardi ( Bekel )                                    Tahun 1945 – 1948
  10. Daryono + H. Toha ( Bekel ) Tahun 1948 – 1949
  11. Sardini ( Bekel ) Tahun 1949 – 1951
  12. Waman ( Bekel ) Tahun 1951 – 1975
  13. Gusro HM ( Kepala Desa ) Tahun 1975 – 1983
  14. Rakiman ( YMT Kades ) Tahun 1983
  15. Rifa’i ( PJS Kades ) Tahun 1983 – 1985
  16. Dhanoyo ( Kepala Desa ) Tahun 1985 – 1993
  17. Sarwo Leksono ( YMT ) Tahun 1993
  18. Untung Waharjo, SE ( Kades ) Tahun 1993 – 1994
  19. Slamet Mansyur, BA ( PJS ) Tahun 1994 – 1995
  20. Kaliri, BSc ( kades ) Tahun 1995 – 2003
  21. Tarmidi ( Kades ) Tahun 2003 – 2013
  22. Endah Lestari ( Kades ) Tahun 2013 – sekarang.

               Dari beberapa masa kepemimpinan dan perkembangan jaman      dapat  diketahui  beberapa  kejadian  penting  antara  lain  :

  1. Pada tahun 1976 baru pertama kali Desa memiliki Balai Desa dan 1977 normalisasi (pindah)  Kali Medana, namun masa jabatan kades 10 Tahun , baru 8 Tahun kadesnya kena masalah dan perangkatnya banyak yang berganti – ganti.
  2. Pada Tahun 1983 penataan SOT perangkat baru menurut UU No 79, penataan lingkungan teratur rapi baik jalan maupun infrastruktur yang lain termasuk kamtibnasnya.
  3. Pada Tahun 1987 Desa Tambakrejo mendapat penghargaan dari Presiden karena KB nya berhasil.
  4. Pada Tahun 1994 kades terpilih baru satu Tahun meletakkan jabatannya karena tidak mampu dan banyak masalah mulai dari bantuan IDT, dan sejak itu pula masyarakat mulai terpilah-pilah seolah-olah kredibilitas masyarakat memudar.
  5. Pada Tahun 1995 gebrakan tingkat desa mengadakan penanganan sampah penerangan jalan dan penataan infrastruktur yang lain, tetapi setelah masa jabatan PJS selesai banyak meningalkan beban desa.
  6. Pada Tahun 1996 – 1998 keadaan politik nasional mulai tidak stabil yang akhirnya merambah ke desa sehingga keadaan di desa banyak kekisruhan, masyarakat merasa bebas tanpa batas dan sejak itu kerukunan antar warga pudar, masyarakat sulit dikendalikan.
  7. Pada Tahun 1998 akhir pemerintah mencetuskan program penanggulangan pengentasan desa tertinggal ( P3DT ),  yang pelaksanaannya didampingi oleh seorang konsultan setiap kecamatan, pada masa itu kepanitiaan masih diberi dana operasional dan honor, dan pada saat itu pula pengelola di fokuskan oleh masyarakat, baik rencana – pelaksanaan dan pengawasan.
  8. Pada Tahun 2001 ada program PPK dan program ini didampingi oleh faskel, sedang kepengurusan tidak ada honor tetapi hanya ada dana operasional. Pada program ini tidak hanya fisik saja tetapi juga untuk penguatan ekonomi lemah ( KSP / SPP ).
  9. Pada Tahun 2004 pemerintah daerah mencanangkan / memberi stimulan bantuan aspal, dan disambut masyarakat secara antusias terbukti dapat berswadaya untuk mengaspal sampai hampir         sepanjang 1.400 m x 3 m.
  10. Tahun 2005 PPK kedua turun di Desa Tambakrejo untuk membuat gedung PAUD “ PELITA HATI “ yang berlokasi didukuh Tambak Ringin.
  11. Tahun 2007 pemerintah mencanangkan program penanggulangan kemiskinan perkotaan (P2KP) yang sekarang diganti program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan ( PNPM-MP). Program ini perencanaanya sangat matang dan difokuskan pada bagaimana agar masyarakat bangkit, semangat, mampu dan akhirnya tertanamlah jiwa kerelawanan, keswadayaan dan kepedulian terhadap perkembangan desa. Pada kegiatan ini bantuan langsung diterima oleh masyarakat yang dikordinir oleh tingkat desa LKM dan tingkat lingkungan KSM, namun prosesnya terlalu panjang dan membosankan walaupun kemasannya hampir permasalahan dapat terakses, karena memuat TRIDAYA Program ini sampai sekarang sedang berjalan.
  12. Sejak Tahun 2011 Bantuan pembangunan fisik ke Desa banyak sekali sumbernya baik yang melalui Dinas terkait , SKPD , Aspirasi Parpol dll . Ada Beberapa tempat atau bangunan umum yang ada di tambakrejo yaitu : MCK Plus dari Program SLBM dana pusat yang berada di Dusun Tambakringin , Gudang Gapoktan , Perbaikan Jalan dsb.
  13. Mulai tahun 2016 bantuan Pemerintah baik fisik maupun non fisik semua harus masuk APB Desa, sehingga hal ini perlu adanya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia baik untuk Masyarakat umum maupun kelembagaan didesa dan utama lagi untuk jajaran Pemerintahan Desa itu sendiri.

 

Sumber : Berbagai sesepuh dan tokoh masyarakat Desa Tambakrejo